Tuesday, May 29, 2012

FanFiction - Two Namja



FANFICTION – MY DOUBLE IDOLS  part 1
Cast : Super junior, DBSK

************
“Ya!! Ambilkan handuk itu!”
“Ya!!minum ku donk!”
“Ya!! Kau itu bagaimana, itu bajuku, bukan bajunya si monyet itu!”
“Ya!! Bla..bla..”
“Ya!! Bla..bla..”


 

Akh..! telingaku sakit sekali mendengar omelannya. Namja ini memang tampan, tapi sifatnya jelek sekali. Aku tau dia ini bergabung dalam sebuah boyband terkenal berjumlah 13 orang, tapi tetap saja perilakunya itu menyebalkan. Aah, aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Chacha, aku orang indonesia yang kuliah di Kyunhee University. Tapi teman-temanku memanggilku Park Jungchan. Dan sekarang aku sedang magang disalah satu perusahaan entertaiment terbesar di korea, yaitu SM Entertaiment. Dan namja di depanku adalah Kim Heechul dari super junior. Sejak perkenalanku 4 hari yang lalu pada member Suju, dia selalu memperlakukanku sebagai pesuruhnya.


“Hahh..” aku hanya bisa menghela nafas.
“Jungchanssi, Gwaenchanayo(apkh km baik2 saja)?” hiya.. si leader ini mengagetkanku saja.
“Gwaenchana Leeteukssi. Apa ada yang bisa aku bantu?”
“Opsoyo(tdk ada). Hanya khawatir saja, karna dari tadi Heechul menyuruhmu melakukan ini itu” katanya sambil tersenyum. Hah.. lumayan dapat bonus senyuman dari seorang Leeteuk, menghilangkan rasa sesalku tadi.

“Yeoja Magang!! Kenapa lama sekali?! Aku tadi kan menyuruhmu membeli kopi. Ppali(Cepat)!!” haishh.. suara itu lagi. Hilang sudah lamunanku tentang senyuman sang leader.
“Ne, Heechulssi. Jamkambanyon” kataku bergegas menuju mesin kopi.

*********

Hari ini suju berada di Dream Concert. Sudah 2 hari ini aku kurang istirahat dan sekarang aku terkena 6L! Lelah,Letih,Lesu,Lunglai,Lapar,Luwe!! Kepalaku sakit sekali, sudah berkali-kali kupijit tapi tak membawakan hasil.

BRUKK

Hiah.. aku terhuyung kebelakang dan pantatku berhasil mendarat kasar di lantai.

“Aduh, sakit sekali..” gumamku menggunakan b.indonesia
“Agassi? Gwaenchanayo?” seorang namja mengulurkan tangannya padaku dan aku mendongak keatas. 

OMO!! Kim Jejung dari DBSK. Cepat-cepat aku berdiri sampai lupa pada uluran tangannya.
“Chosohamnida Jejungssi, aku menabrakmu” ucapku membungkukkan badan padanya.
“Aniyo agassi, aku yang menabrakmu. Gwaenchana?” tanyanya.
“Ne, nan gwaenchana Jejungssi” kuyakinkan pangeran cantik yang ada dihadapanku ini kalau aku baik-baik saja.
“Agassi, onu nara saramiyeyo(anda berasal dari mn)?”
“Jonun Indonesia saramiyeyo Jejungssi. Waeyo?” tanyaku balik.
“Aa, pantas saja, bahasamu seperti Kim Junra”. Ha? Sapa tuh?
“Chongmal? Gureom, kim Junra nuguya?”
“Dia juga mahasiswa ,magang sepertimu. Nanti kalau kita bertemu lagi, akan kukenalkan padanya” janjinya sambil tersenyum padaku.
“Kamsahamnida Jejungssi” ucapku membalas senyumannya.

************

(@ruang ganti suju)

Siiinnnggg...........krik krik krik
Aku menelan ludah saat masuk keruangan ini. Sunyi dan menegangkan. Pikiranku langsung melayang. Kalau tidak kangin yang marah, pasti Heechul. aku memilih diam daripada menjadi santapan makan malam mereka. tiba-tiba Heechul keluar ruangan sambil membanting pintu. Tentu saja aku terlonjak kaget. Haishh menakutkan sekali. Seperti di medan perang saja.

“Jungchanssi, tolong ambilkan berkas-berkas yang ada di ruangan sebelah” kata manajer mereka.
“Ye, daesanssi*ngawur*” aku segera berjalan menuju pintu.

JEDUK!!

Aah !! aku mundur lunglai ke pojokan tembok, dan terdududk sambil memegang dahiku.
“Sakit...” rintihku.
“Jungchanssi, gwaenchanayo?”
“Jungchanssi..”
“ Cepat ambil P3K”
“Ya!! Yeoja magang, kau tak apa?”

Aku tak menghiraukan pertanyaan mereka, yang kupikirkan hanya satu. PUSING SEKALI!!
“Ya!! Yeoja magang, Kenapa tidak menjawab?!!!” haishh orang ini benar-benar cerewet sekali.
“YA HEECHULSSI!! KENAPA BERTANYA TERUS?! AKU INI SEDANG PUSING TAU!!” bentakku meninggalkan ruangan itu sambil memegang dahiku. Saat berada di pintu, aku berpapasan dengan siwon.

“Kenapa dia?” tanya siwon pada yang lain.
“Heechul hyung membuka pintu dengan keras saat dia berada di belakang pintu” samar-samar aku mendengar seseorang menjawab pertanyaan dari siwon tadi.

Aku segera ke ruangan sebelah untuk mencari berkas-berkas yang diminta oleh manajer daesan. Saat sedang mencari, ada orang yang datang. Ooh, ternyata si pangeran cantik, Jejung.
“Lho? Kau agassi yang tadikan? Siapa namamu?” tanyanya.
“Nanun Park Jungchan imnida” jawabku sambil membungkukkan badan dan seketika lupa pada sakit di dahiku.
“Mianhae aku lupa menanyakan namamu. Tapi Jungchanssi, keningmu berdarah.” Hah? Berdarah? Cepat-cepat aku mencari kaca. Pantas saja sakit, darahnya keluar banyak sekali.
“Yoboseyo Junrassi, cepat kemari dan bawakan kotak P3K” aku menoleh kearah Jejung. Wow. Dia menyuruh orang untuk membawakan kotak P3K untukku?

Orang yang ditelepon oleh Jejung datang cepat sekali sambil membawa P3K.
“Jungchanssi,kemarilah. Aku akan mengobati lukamu”
“tidak usah Jejungssi. Aku harus mengantarkan berkas-berkas ini kepada manajer daesan sekarang” tolakku halus dengan menunjukkan berkas yang ada di tanganku.
“kalau begitu, Junra saja yang mengantarkannya” Jejung mengambil berkas yang ada di tanganku dan menyerahkannya kepada yeoja yang bernama Junra tadi.
Saat Junra keluar, Jejung mulai mengobati lukaku. Wajah kami dekat sekali. Jantungku berdegup kencang.
“Kenapa bisa mengeluarkan darah sebanyak ini?” tanya Jejung yang masih mengobati dahiku.
“Tadi aku berada di belakang pintu, saat Heechulssi membuka pintu itu dengan kekuatan supernya”
“Kekuatan super?” dia berhenti sejenak dan menatapku bingung.
“Kekuatan emosinya maksudku”
“Hahaha kau ini lucu sekali” waa.. tampan sekali jika sedang tertawa, aku hanya tersipu malu.

Junra sudah kembali dari ruang ganti suju untuk menggantikanku.
“Mereka terus bertanya tentang keadaanmu” kata Junra sambil membereskan kapas-kapas bekas lukaku tadi.
“Chongmal? Sebaiknya aku kembali” kataku yang juga membantu Junra membuang kapas-kapas itu.
“Gomawo Jejungssi, dan terima kasih Junrassi” ucapku membungkukkan badan.
“ Ne, Cheonmaneyo. Hati-hati ya”
“Sama-sama Jungchanssi” Junra sedikit kaget saat aku mengucapkan terima kasih dalam b.indonesia. tapi ia tetap membalas dengan senyuman.

*****************

Saat ku kembali ke ruang ganti 13 orang itu, ternyata mereka sudah berada di stage. Aku menghampiri Kyura sunbae, mungkin saja ada hal lain yang bisa kukerjakan.

“Sebaiknya pulang saja. Hari ini kau sudah melakukan tugasmu dengan baik dan wajahmu pucat sekali.  Aku takut kalau kau lama-lama disini, nisa-bisa malah pingsan.” Oh Thanks God! Akhirnya kau bisa istirahat.

“Kamsahamnida sunbae” aku melenggang keluar gedung dan menunggu bis di halte.

*************

Setelah kejadiam kemarin, hari ini aku membantu Kyura sunbae membuat laporan saat di dream concert.
Satu persatu member suju memasuki ruang rapat, mataku dan matanya Heechul bertemu, tapi dia malah memalingkan wajah. Aigo.. sebesar apa sih gengsinya sehingga masih belum meminta maaf atas kejadian kemarin.

“Jungchanssi, sini sini” panggil eunhyuk. Aku berjalan kearah tempat duduknya yang berada di samping Heechul.
“Bagaimana dengan keningmu?” semua member kecuali heecul menatapku.
“Aa.. kemarin mengeluarkan darah banyak, tapi Jejungssi sudah mengobatiku” aku sengaja menekankan kata ‘darah’, nampaknya Heechul tidak memperhatikanku. Dia sedang berbicara dengan manajer daesan.
“Jejung hyung?” kyuhyun menatapku bingung, padahal tadi sepertinya ia sedang sibuk bermain game.
“Ne, kebetulan kemarin bertemu dengan Jejungssi” jelasku, semuanya mengangguk mengerti.

BRAKK

Semua termasuk aku menoleh kearah Heechul dan manajer daesan. Lagi-lagi Heechul menggerebak meja.
“Terserah padamu lah” manajer daesan keluar meninggalkan Heechul yang masih emosi.
“Yo lak sak no seh mejane(kan kasian mejanya)” gumamku dengan logat surabaya, tempat tinggalku dulu.
“Mworago?” Heechul menoleh dengan memicingkan matanya padaku.
“Ani..” jawabku enteng dan mengikuti manajer daesang keluar ruangan.

**************

Aku bertemu dengan Kim Junra lagi saat istirahat makan siang. Kami bercerita banyak. Ternyata nama aslinya adalah Raras, Kim Junra adalah singkatan dari Kim Junsu dan Raras. Aku tertawa mendengarnya. Dan dia adalah Cassiopeia sejati sama sepertiku.

“Beruntung sekali magang di tempat DBSK” kataku sambil menyantap makan siangku.
“Hehehe aku juga tidak menduganya. Mendengar suara junsu saat berbicara biasa dan saat dia menyanyi, benar-benar berbeda”
“Berbeda? Apa yang beda?”
“Suaranya junsu cempreng sekali kalau tidak menyanyi” bisik Junra, padahal kami menggunakan bahasa kami, seharusnya dia tidak perlu berbisik-bisik. Toh tidak ada yang mengerti.
“Hahaha benar benar” aku setuju dengan pendapatnya.
“Bukankah tempatmu juga menyenangkan? Kan di sana ada si tampan siwon?”
“seharusnya begitu, tapi diantara mereka semua, ada satu yang membuatku sial terus”
“Nugu?”
“siapa lagi kalau bukan Heechul. Haishh orang itu benar-benar menyebalkan” Junra tertawa mendengar ceritaku.

“Hahaha.. hati-hati lho, benci bisa jadi cinta. Kekeke”
“Cih! Tak akan! Never!” aku memanyunkan bibirku.
“Jangan begitu, nanti karma dengan omongan sendiri lho” jiah, kenapa Junra malah berkata seperti itu? Aku hanya diam melanjutkan makan siangku.

“Annyong. Wah kalian sudah akrab ya?” Jejung tiba-tiba datang menyapa kami berdua diikuti junsu dibelakangnya.
“Annyong Junsussi, annyong Jejungssi” sapa Junra dan tersenyum kepada junsu.
“Wah, aku yang menyapa duluan kenapa melihatnya kearah junsu?” goda Jejung pada Junra. Aku jadi ikut tertawa. Nampaknya junsu juga malu-malu saat Jejung berkata seperti itu.
“Ya! Jejungssi. Kau juga! Aku bersama dengan Jungchan disini, tapi matamu tak bisa lepas dari jungchan!” hah? Aku tak mengerti maksud perkataan Junra. Kenapa aku juga dibawa-bawa?
“dan....” Jejung membekap mulut Junra, saat Junra ingin melanjutkan kalimatnya.
“Hmmph..” Junra meronta-ronta.
“Junsu-ya! Cepat bawa keluar mahkluk yang satu ini!” kata Jejung yang masih mentutup mulut Junra dengan tangan kirinya.
“Ara, tapi lepaskan dia dulu donk. Kasihan tuh mukanya sudah memerah tak bisa bernafas” junsu berusaha menolong Junra dan menggandengnya keluar ruangan.
“Ya! Jejungssi! lihat saja nanti!” teriak Junra dari luar. Aku hanya melongo melihat tingkah mereka bertiga.

“Jangan pedulikan ucapannya. Dia selalu begitu” melihat kejadian tadi, aku menghela nafas.
“Waeyo Jungchanssi?”
“Aniyo, aku hanya iri pada Junra. Dia sangat dekat dengan kalian”
“Iri? Tidak bedakan dengan suju? Di sana kan ada Leeteuk hyung, yesung hyung, Eunhyuk, dan yang lainnya”
“haha iya sih..” aku tertawa miris. Kualihkan pandanganku pada luar  jendela besar yang memisahkan ruangan ini dengan lorong. Heechul? Dia menatapku sesaat dan pergi begitu saja. Ada apa sih?

_TBC_

FANFICTION – MY DOUBLE IDOLS part 2 (penderitaan chacha)
Cast : Super junior, DBSK

Setelah makan siang, aku kembali ke ruangan suju. Mataku terpaku pada sebuah kotak kecil di atas mejaku. Ku buka perlahan, isinya adalah 2 butir cokelat dan kartu kecil bertulisan ‘Mianhae’. Aku meoleh kanan kiri, mencari pemilik kotak ini.
“Jungchanssi, apa itu?” Kyura sunbae datang dan melihat kotak yang kupegang.
“Coklat? Dari siapa?” aku menggeleng tidak tahu.
“Mollaso, hanya ada tulisan mianhae. Jelek pula tulisan tangannya” Kyura sunbae terkekeh mendengar jawabanku.

BRAKK

Aku menoleh ke asal suara itu. Sepertinya ada yang membanting pintu tadi.
“Pssst, Jungchanssi” Yesung tiba-tiba berbisik padaku.
“Ne, Yesungssi”
“Kotak itu dari Heechul hyung dan kartu itu juga Heechul hyung yang menulis sendiri”

OMO!! Berarti yang membanting pintu tadi Heechul donk?. Mungkin saja ia mendengar percakapanku dengan Kyura sunbae.

Aku langsung berlari mengejar Heechul. Tapi terlambat, ia sudah masuk ke dalam lift. Terpaksa aku turun melalui tangga darurat. Sesampainya di lobby dan masih dengan nafas terengah-engah, aku mengejarnya lagi. Buset, cepat sekali jalannya.
“Heechulssi. Hosh Cha..kam..ban..nyon hosh..hosh” ku pegang lengannya sambil mengatur nafas.
“Mianhae, chongmal mianhae Heechulssi. Aku benar-benar tidak tau kalau itu kotak darimu”
”Ya!! Kau itu kuliah di universitas paling termuka di korea. Tapi sikapmu itu benar-benar tidak tahu diri” hah? Aku termenung sesaat, apa hubungannya dengan kyunghee? Sebenarnya namja ini bicara apa sih?

Heechul lalu menepis tanganku dengan keras dan untuk yang kedua kalinya, aku terjatuh di lantai. Aku meringis kesakitan di perlakukan seperti itu. Karna tak tahan dengan sifatnya, aku langsung berdiri dan menatap tajam matanya.

“”Heechulssi, sebenarnya yang tidak tahu itu aku atau kau? Menyuruh orang dengan seenaknya saja, padahal tugasku di sini sebagai mahasiswa magang bukan untuk menjadi babumu! Lalu masalah tadi, kenapa meminta maaf dengan kertas? Seperti pengecut saja!”
“Kau...”
“dan mana ada namja yang mendorong seorang yeoja seperti tadi? HAH?! Dasar namja berdarah AB!!!” setelah puas dengan kekesalan yang kuungkapkan, aku pergi meninggalkannya begitu saja. Aku tak peduli ekspresinya saat ini. Yang penting sekarang aku merasa puas.

****************

Kejadian kemarin membuatku takut dengan Heechul, karena daritadi dia melihatku terus. Bukannya aku takut akan tatapan marahnya, tapi yang aku takutkan, Heechul melihatku dengan tatapan yang berbeda. Bagaimana ya cara menjelaskannya. Yang penting cara melihatnya berbeda sekali dari yang sebelumnya. Aku jadi risih.

“Jungchanssi, ada kejadian apa kemarin kau dengan Heechul?” Shindong tiba-tiba muncul dihadapanku.
“Memangnya ada apa?” tanyaku balik pura-pura tidak tau.
“Entahlah, dia kemarin tiba-tiba bertanya padaku tentang golongan darah AB”
“Lalu?” aku penasaran.

Shindong mulai menceritakan saat Heechul tiba-tiba menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke tembok. Heechul bertanya tentang orang yang  mempunyai golongan darah AB, karena shindong tidak tau, ia menyuruh Heechul untuk mencarinya di internet.

“Saat membaca artikel itu, aku tidak berani berkomentar apa-apa. aku langsung kabur sebelum kena amarahnya”
Aku mengerutkan keningku “Apa isi artikel itu?”
“Baca sendiri saja, aku takut jika hyung marah kalau kita membicarakan ini”
“Lalu kenapa kau tanyakan kejadian itu padaku?” aku masih penasaran.

Shindong mengela nafasnya “Karena aku pikir, ini pasti ada kaitannya denganmu, Jungchanssi. Hanya kau yang berani mengutarakan sesuatu pada Heechul hyung”
Mengutarakan? Memang aku bilang apa?
Shindong yang melihatku bingung, segera melanjutkan bicaranya “Aku diberi info oleh salah satu staf, kemarin kalian bertengkar di lobby”

Aku terserentak kaget. Haduh, kemarin aku terlalu kesal  jadi mungkin tidak bisa mengecilkan suaraku. “Gwaenchanayo Jungchanssi, kita semua malah mau berterima kasih padamu. Mungkin saja Heechul hyung mau merubah sikapnya yang seenaknya sendiri itu” Shindong menepuk pundakku, sedikit membuatku lega dengan perkataannya. Aku hanya diam tersenyum.

Aku masih penasaran dengan artikel tentang orang bergolongan darah AB. Ku buka laptopku dan langsung browsing melalui google, aku mulai mengetik dengan tulisan indonesia, agar tidak ada orang di sekitarku membacanya.’Watak orang Golongan darah AB’.

Mereka memiliki karakteristik di kedua ujung spektrum. Artinya di satu sisi mereka pemalu... Mwoya(apa)? Pemalu apanya, malu-maluin malah. ....di sisi lain sangat terbuka. Mereka juga dikenal sangat sensitif.. Ini dia!! Sangat sensitif, setuju sekali. Ku lanjutkan pada kalimat selanjutnya. ....dan penuh perhatian. Aku membaca ulang kalimat itu. Perhatian? Benarkah? Aku belum pernah melihat sifat itu muncul dalam diri Heechul. Hmm.. mungkin saja. Lalu paragraf selanjutnya, ...Golongan darah AB dianggap sebagai tipe darah terburuk di Jepang. Karena orang yang memiliki Golongan darah AB dianggap yang paling lemah dan tidak bisa dipercaya. Mataku terbelak saat membaca paragraf itu. Apa-apaan ini? 
Kenapa sebagai yang terburuk di Jepang? Aigo, sungguh tak adil. Apakah Heechul juga membaca paragraf itu. Bagaimana perasaannya ya?

Kenapa aku malah mengkhawatirkannya? Haishh sudahlah. Lebih baik aku membantu Kyura sunbae menyiapkan baju untuk pemotretan Super Junior.

**********

(@ Lokasi pemotretan)

Brrr dingin sekali. Kenapa lokasinya di outdoor sih, sekarang kan bulan januari. Hawa-hawa dingin masih terasa menembus jaketku. Maklum, di Indonesia mana ada hawa sedingin ini. Berkali-kali aku bersin dan membawa sekotak tisu besar di tasku.

“Hacchii.. brr.. sun..bae.. ada.. yang..bi..sa aku..ban..tu?” gigiku gemetaran tak mau berkompromi dengan hawa dingin ini.
“Aku menyesal membawamu kesini Jungchanssi. kau belum terbiasa dengan musim dingin ya? Lebih baik tunggu aku disana saja. Jangan mendekati mereka ya” Kyura sunbae menunjuk ke arah 10 pria itu. Aku mengangguk mengerti, tentu saja aku tak boleh mendekati mereka. bisa-bisa mereka tertular virus dariku.

Pemotretan tidak begitu lama, hanya 2 jam. Tapi itu sudah membuatku berdiri membeku dengan mata terbelak. Kakiku sangat kaku tak bisa di gerakkan.

“Jungchanssi, kajja(Ayo)” tamatlah aku, Kyura sunbae sudah menyuruhku masuk ke mobil. Aku butuh waktu, jari-jari kakiku sudah mulai bisa digerakkan, tapi tak sepenuhnya. Aku menunduk melihat sepatuku dan berdo’a semoga bisa berjalan.

“Gwaenchana?” seseorang bertanya dengan lembut padaku. Aku mendongakkan kepala. Heechul. Aku hanya tersenyum meringis kesakitan. Nampaknya ia mengerti keadaanku. Kedua tangannya memegang kedua lenganku dengan hati-hati.
“Kajja, jalanlah pelan-pelan. Jika aku menuntunmu terlalu cepat, beri tau aku”
“Ne” aku mengangguk pasrah. Aku berpikir sesaat, kenapa Heechul bisa selembut ini? Ah, masa bodoh. Yang penting sekarang aku ingin cepat-cepat masuk ke mobil dan menghangatkan diri.

************

Oh God !! 39o derajat. Aku benar-benar wanita tak berdaya, menunggu 1 jam seperti tadi sudah membuatku tepar seperti ini. Huhuhu oemma.. kepalaku berdenyut tak karuan saat mendengar gedoran sangat keras dari luar. Aku berjalan gontai menuju pintu.

“Adjumma(bibi). Waeyo?” aku melongok ke luar pintu.
“Sudah 2 bulan kau belum bayar Jungchanssi” choon adjumma menagih uang apartement kecil ini. Haishh, bagaimana aku bisa lupa sih. Choon Adjumma ini orangnya sangat tidak sabaran.
“Chongmalyo? Mianhae adjumma, aku sangat sibuk, jadi lupa untuk membayar. Aku akan mengambil uangnya dulu” belum 3 langkah aku masuk lagi, choon adjumma sudah mendorongku untuk tetap diluar.
“Tidak usah! Mulai hari ini, tolong tinggalkan ruangan ini. Aku tidak mau menerima orang yang telat membayar sepertimu” otakku mencerna setiap kata dari adjumma dengan sangat lambat, aku masih diam saat suaminya membereskan barang-barangku yang tidak banyak itu. Dan saat aku mulai sadar, semua barangku sudah berada di depanku.

“Tapi adjumma, aku punya uang untuk membayar selama 3 bulan ini” mereka tidak mendengar kata-kataku, pergi meninggalkan aku yang masih terpaku di depan pintu yang sudah tidak bisa aku tempati lagi.
Malam-malam begini aku harus bagaimana? Badanku semakin panas dan cuaca juga semakin dingin. Terlintas dipikiranku untuk menginap sementara di tempat tinggal Junra. Tapi sepertinya dia sedang sibuk, aku tak mau merepotkannya.

“Jungchanssi? Wae irae(km knp)? Kok ada diluar?” aku melihat orang yang memanggilku dengan tatapan sayu. Aku tak bisa melihat jelas orang itu.

“Kau mau kemana? Kenapa barangmu ada di luar?” orang itu bertanya lagi. Aku berusaha menjawab pertanyaannya walau kerongkonganku sedang kering. “Entahlah, Choon adjumma tidak mau aku menyewa apartementnya lagi”

Ukh, kepalaku sakit lagi. Mataku mulai berkunang-kunang. Kedua kakiku sudah tak mampu berdiri lagi. Dan orang itu memanggil namaku berkali-kali tapi suaranya mulai menghilang. Lalu semuanya gelap.


***********

Ada cahaya menyinari mataku. Silau. Aku membuka mataku perlahan, dan berusaha menyesuaikan dengan cahaya itu. Aku meletakkan punggung tanganku di dahiku agar terhindar dari cahaya yang sekarang aku tau bahwa itu sinar matahari, ada sesuatu yang basah menempel di dahiku. Handuk kecil? Untuk apa? eh, aku ini ada di mana ya?

Aku mengangkat tubuhku hingga terduduk di kasur. Ku lihat sekelilingku, ini bukan kamar apartement ku. Aku kaget saat melihat ada seorang namja yang tertidur di kursi tapi kepalanya bersandar di tepi kasur yang aku tiduri. Saat aku bergerak sedikit, ternyata malah membuat namja itu terbangun.

“Jungchanssi, kau sudah bangun?” Heechul? Kenapa dia bisa di sini?
“Aa.. Jungchanssi, kau sudah sadar? Ini minumlah” Leeteuk masuk diikuti oleh shindong yang membawa napan berisi makanan. Kenapa mereka ada di sini? Eh, salah. Kenapa aku bisa berada di dorm suju?
“Minumlah dulu, lalu sarapan dan minum obat” Heechul menyodorkan ku gelas yang dipegang oleh Leeteuk tadi. Aku mengambilnya masih dengan raut wajah bingung.

Aku meneguk habis air putih itu. “Bisa tolong ceritakan padaku, kenapa aku bisa berada di dorm kalian?”
“Kau tidak ingat?” aku menggeleng.
“Tadi malam Heechul hyung membawamu kesini dengan keadaan suhu badanmu 39o derajat” kata shindong meletakkan napan berisi makanan di depanku.
“Makanlah selagi panas” aku mengangguk pada Leeteuk. Sebenarnya aku malu untuk makan di depan mereka, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus minum obat agar panasku turun.
“Lalu?” aku menoleh kepada Heechul.
“Kau bilang kalau pengurus apartementmu itu sudah tak mau menerimamu lagi”
“Uhuk..Uhuk..ukh..” aku tersedak mendengar hal itu, dan mulai mengingat semuanya.
“Yaa.. pelan-pelan..” Heechul membantuku minum.
“Lalu? Bagaimana kau bisa ada di depan apartementku Heechulssi?”
“Heechul hyung mengkhawatirkanmu sejak di lokasi pemotretan kemarin” celoteh shindong yang langsung kabur sebelum menjadi korban pembantaian.

Aku memiringkan kepalaku. Benarkah dia mengkhawatirkanku? Waah, senang sekali. Eh? Apa yang aku pikirkan, haduh otakku sudah tak beres.
“Ani, jangan pedulikan shindong. Aku hanya kebetulan lewat. Lagipula, untuk apa aku khawatir padamu” katanya sinis sambil berjalan keluar kamar.
Tuh kan. Aku pikir dia sudah berubah, sifatnya masih saja seperti itu. Dasar namja menyebalkan!!

*************

Sudah 2 hari aku berada di dorm suju lantai 12. Dan 2 hari itu aku juga ijin sakit pada Kyura sunbae. Sekarang aku sudah merasa baikan, dan juga waktunya mencari apartement baru. Aku akan mencarinya sepulang magang sore nanti.

Terlihat sosok Junra berlari menghampiriku. “Jungchan-ah.. kemana saja? 2 hari ini kau membolos ya?” wajahnya khawatir.
“Yaa! Mana berani aku membolos magang kalau bukan karena demam”
“Chongmal? Apa masih panas?” Junra menempelkan punggung tangannya di dahiku.
“Aniyo”
“Kau pindah apartement ya? Kenapa tidak bilang? Aku sampai dibentak oleh adjumma itu. Huh” Junra mendengus kesal. Karena merasa bersalah, akhirnya aku menceritakan kejadian itu padanya.
“MWORAGO? Kau tinggal di dorm mereka?” suara junra keras sekali. Aku langsung menyeretnya kepojok ruangan.
“Ya!! Kecilkan suaramu itu!”
“Kenapa tidak menghubungiku Jungchan-ah. Kau kan bisa tinggal di tempatku” raut wajahnya sepertinya marah mendengar ceritaku.
“Aku tak ingin mengkhawatirkanmu. Mianhae” ucapku pasrah jika Junra memang marah.
Junra menghela nafas panjang “Lalu kapan kau akan keluar dari dorm mereka?”
“Sore nanti ini aku akan mencari yang baru. Tenang saja, mana mungkin aku lama-lama bersama mereka. apa kata dunia?” Cengirku.
“Ya! Aku marah padamu, malah kau menyengir kuda seperti itu. Arasso, aku akan mengantarmu mencari apartement yang baru” Junra baik sekali. Aku langsung memeluknya.
“Gomawo Junra-ah” kataku. “Ne, tapi lain kali jangan segan-segan meminta tolong padaku. Kitakan sebangsa, setanah air. Hehehe” jawab junra menepuk pundakku sambil mengepalkan tangannya keatas.

****************

(@evening day)

Waktunya mencari tempat tinggal. Yup, barang-barang di mejaku sudah siap. Aku akan ke tempat junra sekarang.
“Jungchanssi, mau pulang kan? Ayo pulang bersamaku” kata siwon memberikan tumpangannya.
“Aniyo Siwonssi. Aku harus mencari tempat tinggal baru sekarang” tolakku halus.
“Mau aku temani?” siwon menawarkan pertolongan lagi. Beginilah, karena kebaikan mereka semua, Aku jadi merasa tak enak hati kalau lama-lama berada di sana.
“Tidak usah. Gomawo atas tawarannya siwonssi. Temanku sudah berjanji akan menemaniku”
“Baiklah.. aku balik duluan ya.. pulangnya jangan malam-malam. Nanti Heechul hyung khawatir lagi” Siwon meninggalkanku dengan senyuman penuh arti. Aku jadi bingung sendiri. Sudahlah, aku harus bergegas menemui Junra.

(@TVXQ room)

“Mianhae Jungchan-ah. Chongmal mianhae. Aku ada rapat dengan Jaemin sunbae” berkali-kali Junra membungkuk minta maaf padaku.
“Gweanchanayo. Aku akan pergi sendiri” aku berusaha menenangkan Junra bahwa aku baik-baik saja.
“Jungchanssi? Annyong” Jejung masuk ke ruangan, diikuti 4 member yang lain.
“Ne, Annyonghaseyo”aku membalas menyapa mereka.
“Wah hyung, di luar tadi kau nampak bad mood. Melihat Jungchan disini, wajahmu langsung berseri-seri seperti itu” changmin langsung menyeletuk.

Pletak

“Diam kau. Jangan pedulikan mereka Jungchanssi. Tumben sekali ada di sini” tanya jejung.
“Aah.. kebetulan sekali jejungssi, kau kan sudah tidak ada jadwal lagi. Temani Jungchan mencari apartement baru ya. Aku ada urusan jadi tidak bisa bersamanya” mwo? Junra menyuruh jejung mengantarku? Yang benar saja. Bukannya aku tak mau. Tapi itu kan lebih merepotkan orang lain lagi.
“Andwae. Biar aku pergi sendiri saja” tolakku dengan keras.
“Gwaenchana Jungchanssi. Tunggu aku ya. Aku ganti baju dulu” Jejung keburu pergi saat aku akan menolaknya.
“Memang chagi mau kemana?” aku menoleh ke sumber suara itu. Junsu?
“Aku ada rapat dengan Jaemin sunbae oppa. Aigo, banyak sekali keringatmu oppa” Junra menjawab pertanyaan dari junsu tadi sambil mengelap keringat di wajah junsu dengan tisu.
Apa-apaan itu? Kenapa mereka mesra sekali? Jangan-jangan...
“Jungchanssi.. kajja” jejung menarikku di saat aku ingin bertanya pada junra tentang pemandangan aneh itu. Sudahlah, nanti saja. Aku akan menginterogasi Junra sendiri.

_TBC_
__________________________________________________________________________________

FANFICTION – MY DOUBLE IDOLS part 3 (penderitaan chacha)
Cast : Super junior, DBSK

Akhirnya setelah 3 jam aku berkeliling dengan jejung, aku mendapatkan apartement yang lebih bagus dan murah daripada yang sebelumnya. Pemiliknya juga sangat baik. Malam ini aku harus membereskan barang-barangku yang ada di dorm suju. Jadi besok sudah bisa pindah ketempat ini.

Kruk..kruyuk.. haduh, perutku ini bunyinya gak lihat-lihat tempat. Aku langsung menunduk malu.

“Hahaha, ayo kita makan” ajak jejung menarik tanganku untuk masuk kesalah satu restaurant mie.
“Gomawo Jejungssi telah mengantarku” kataku berterima kasih. “Chongmal Gomawo”
“Ne, aku senang bisa membantumu” katanya tersenyum manis sekali. “Bisa tidak jangan memanggilku seperti itu lagi? Cukup dengan oppa. Aku juga akan memanggilmu biasa” sambungnya.
“Ne? Tapi...” aku merasa tak enak kalau hanya memanggilnya oppa.
“Bukankah kita sudah dekat?”
“Ne, oppa” jawabku ragu-ragu. Jejung tersenyum lagi saat aku memanggilnya oppa.

Aah, aku lupa bertanya tentang hubungan Junra dengan Junsu.

 “Oppa, kenapa tadi aku mendengar Junsu memanggil Junra dengan sebutan Chagi?”
Jejung menyeruput mienya. ”2 hari yang lalu Junsu mengatakan perasaannya pada Junra. Kami semua tahu kalau mereka saling mencintai. Tapi mereka berdua itu canggung sekali. Terpaksa kami membantunya”

Aku mengangguk mengerti. Jahat sekali Junra, punya pacar idol tidak pernah cerita padaku. Awas saja besok saat di kantor. Aku melanjutkan memakan mieku.
“Enak sekali Junsu. Aku juga ingin cepat-cepat mengutarakan perasaanku” aku berhenti mengunyah dan menatapnya.
“Kepada siapa oppa?”
“Kepadamu” Jejung tersenyum usil

Uhuk Ukh.. aku kaget sampai tersedak.
“Yaa.. minumlah dulu. Kenapa sampai tersedak gitu sih?” dia menyodorkan segelas air putih padaku.
Aku meminum air itu dan menenangkan diri. “Hahaha jangan bercanda oppa”
Jejung memegang tanganku dan membuatku sedikit kaget “Kenapa kau pikir aku sedang bercanda JungChanssi?” wajahnya menatapku dengan tatapan serius.

Aku hanya diam menundukkan kepalaku. Tentu saja aku menganggapnya bercanda, bagaimana bisa seorang jejung menyukaiku? Bisa-bisa para cassie menyebutku tukang pelet. Perasaanku padanya? Aku memang menyukai jejung, tapi hanya sebatas mengagumi ketampanannya saja.
“JungChanssi, Nan Chongmal Saranghaeyo” sekarang dia benar-benar mengucapkan kata itu dengan serius. Aigo.. nanun jigum ottokhe?

Kukeluarkan keberanianku untuk menatap matanya.”Mianhae oppa..” terlihat ekspresi kecewa di wajahnya.
“Apa alasannya?”
“Tentu saja karena oppa adalah seorang idol dan aku hanya gadis biasa yang sama sekali tidak ada daya tariknya” *Kyaa! Chacha.. mianhae, gak bermaksud.. kabur bawa laptop*

Tiba-tiba saja jejung tertawa keras, sampai membuatku melongo. Memang ada yang salah dengan ucapanku ya? “Hahaha.. alasan macam apa itu? Memang apa salahnya kalau kau hanya seorang gadis biasa? Aku tak terima alasan seperti itu”
“Tapi oppa..”
“Sudahlah, aku akan menunggu jawabanmu yang asli. Sekarang makanlah dan aku akan mengantarmu pulang” lha? Memang jawabanku bajakan apa? jawaban original seharusnya seperti apa?  mentang-mentang di indonesia aku selalu beli dvd bajakan, jadi dia kira perkataanku tadi bajakan? *that’s true* haishh.. mollaso.

***********

“Benar aku hanya mengantar sampai sini?” aku menyuruh jejung untuk mengantarku ke stasiun. Mana mungkin dia mengantarku sampai di depan dorm suju.
“Ne oppa. Kamsahamnida untuk hari ini. Maaf sudah merepotkan” kataku membungkukkan badan sebagai tanda terimakasih.
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa akan jawabanmu” Jejung mengusap lembut rambutku sebelum masuk ke mobilnya.

***********

(keesokan harinya)

Hari ini aku benar-benar pusing. Kepalaku bergantian menoleh pada 2 namja itu. Sebelum kepalaku pecah karena pusing kanan kiri, aku harus menghentikan mereka berdua.

“Yaa!!! Guman!!! Please stop it now!!” teriakku yang berhasil membuat mereka terdiam seketika.
Aku menghela nafas. “Kalian berdua ini kenapa? Aku hanya akan pindah ke apartement. Ara??”
Mereka berdua masih terdiam. Aku jadi bingung dengan situasi ini. Untuk kedua kalinya aku mengehela nafas lagi dan berfikir.

“Jejung Oppa, biar heechulssi saja yang mengantarkanku. Bukankah oppa ada jadwal hari ini? Lagipula, kemarin oppa kan sudah menemaniku” kataku pada Jejung yang terlihat kecewa pada keputusanku.
Heechul tersenyum seakan-akan dia telah menang dari permainan ini. “Tuh kan, aku bilang juga apa. Kajja Jung Chan-ah” ia menarik lenganku pergi menuju ke arah mobilnya.

“Yaa.. heechulssi, kenapa berkata seperti itu pada Jejung oppa?” kataku saat sudah berada di dalam mobil heechul.
“Hmm? Yang mana?” tanya heechul balik sambil menyetir.
“Semuanya. Kenapa ketus sekali tadi? Aku kan jadi tidak enak pada Jejung Oppa!” aku mencibirkan bibirku tanda bahwa aku sedang kesal. Mungkin dengan ini, heechul bisa menyesali perbuatannya.
“Haisshh dia menyebalkan sih.. tidak mau mengalah pada yang lebih tua. Sepertinya dia menyukaimu” alasan apa itu? Memang umurnya berapa sih? Kayak anak kecil saja. Ckckckc.
“Memang” jawabku singkat tetap melihat ke depan.

CKITTT. DUG

Bagus. Sekarang kepalaku yang membentur dashboard. Dulu pintu, sekarang ini. Kalau nanti terjadi apa-apa lagi dengan kepalaku gara-gara si Heechul untuk yang ketiga kalinya, mungkin aku akan mendapatkan bonus sebuah piring cantik. Clap clap clap.

“Mianhae Jungchan-ah.. Gwaenchanayo?” tanyanya khawatir.
“Kenapa tiba-tiba ngerem mendadak sih? Sakit tau!” aku mengelus-ngelus dahiku, sakit sekali. Sepertinya daerah yang sakit, sama seperti yang terbentur pintu dulu deh. Sekilas jadi teringat saat jejung mengobatiku, saat jejung menabrakku, dan saat jejung mengatakan cinta padaku.

“Jungchan-ah? Wajahmu merah!! Apa sesakit itukah?” heechul menyadarkanku kembali dari lamunanku.
“Ne, sakit sekali di sini” aku menunjukkan bagian dahiku yang mungkin mulai memerah. Nampak heechul mulai menstater mobilnya kembali dan menjalankannya. Beberapa menit kemudian, dia berhenti di sebuah mini market.
“Tunggu di sini” pintanya. Aku mengangguk mengiyakan.
Tidak lama setelah itu, heechul keluar dari mini market itu sambil menenteng sebuah tas kresek kecil berwarna putih. Dia mengambil sesuatu dari situ.
“Dekatkan wajahmu” katanya. Aku yang masih bingung hanya diam saja.

Heechul menoleh padaku.”Yaa.. ppali..” ia akhirnya memegang kedua pipiku, dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Jantungku berdegup kencang.
Ternyata ia menempelkan plester pada dahiku dan mengelusnya lembut. “Chongmal mianhae Jungchan-ah” aku terserentak dengan sikapnya yang kadang berubah-ubah.

“Ne Heechulssi. Lain kali hati-hati” mendengar perkataanku, dia berdecak kesal.
“Jangan memanggilku seperti itu. Panggil oppa saja, seperti kau memanggil Jejung tadi” kata heechul menatapku tajam. Aku menundukkan kepalaku sambil berfikir.
“Wae? Kau tak mau?”
“Bukannya begitu. Aku hanya tidak enak saja”
Heechul mengerutkan keningnya “Yaa.. ayolah, aku tak mau jika kau memanggilku seperti itu”
“Ara Ara heechul op..pa” ucapku terbata-bata. Dia tersenyum dan mengcak-acak rambutku

TBC


3 comments: