FANFICTION – MY DOUBLE IDOLS part 1
Cast
: Super junior, DBSK
************
************
“Ya!! Ambilkan handuk itu!”
“Ya!!minum
ku donk!”
“Ya!!
Kau itu bagaimana, itu bajuku, bukan bajunya si monyet itu!”
“Ya!!
Bla..bla..”
Akh..!
telingaku sakit sekali mendengar omelannya. Namja ini memang tampan, tapi
sifatnya jelek sekali. Aku tau dia ini bergabung dalam sebuah boyband terkenal
berjumlah 13 orang, tapi tetap saja perilakunya itu menyebalkan. Aah, aku lupa
mengenalkan diriku. Namaku Chacha, aku orang indonesia yang kuliah di Kyunhee
University. Tapi teman-temanku memanggilku Park Jungchan. Dan sekarang aku
sedang magang disalah satu perusahaan entertaiment terbesar di korea, yaitu SM
Entertaiment. Dan namja di depanku adalah Kim Heechul dari super junior. Sejak
perkenalanku 4 hari yang lalu pada member Suju, dia selalu memperlakukanku
sebagai pesuruhnya.
“Hahh..”
aku hanya bisa menghela nafas.
“Jungchanssi,
Gwaenchanayo(apkh km baik2 saja)?” hiya.. si leader ini mengagetkanku saja.
“Gwaenchana
Leeteukssi. Apa ada yang bisa aku bantu?”
“Opsoyo(tdk
ada). Hanya khawatir saja, karna dari tadi Heechul menyuruhmu melakukan ini
itu” katanya sambil tersenyum. Hah.. lumayan dapat bonus senyuman dari seorang Leeteuk,
menghilangkan rasa sesalku tadi.
“Yeoja
Magang!! Kenapa lama sekali?! Aku tadi kan menyuruhmu membeli kopi.
Ppali(Cepat)!!” haishh.. suara itu lagi. Hilang sudah lamunanku tentang
senyuman sang leader.
“Ne,
Heechulssi. Jamkambanyon” kataku bergegas menuju mesin kopi.
*********
Hari
ini suju berada di Dream Concert. Sudah 2 hari ini aku kurang istirahat dan
sekarang aku terkena 6L! Lelah,Letih,Lesu,Lunglai,Lapar,Luwe!! Kepalaku sakit
sekali, sudah berkali-kali kupijit tapi tak membawakan hasil.
BRUKK
Hiah..
aku terhuyung kebelakang dan pantatku berhasil mendarat kasar di lantai.
“Aduh, sakit sekali..” gumamku menggunakan b.indonesia
“Agassi?
Gwaenchanayo?” seorang namja mengulurkan tangannya padaku dan aku mendongak
keatas.
OMO!! Kim Jejung dari DBSK. Cepat-cepat aku berdiri sampai lupa pada
uluran tangannya.
“Chosohamnida
Jejungssi, aku menabrakmu” ucapku membungkukkan badan padanya.
“Aniyo
agassi, aku yang menabrakmu. Gwaenchana?” tanyanya.
“Ne,
nan gwaenchana Jejungssi” kuyakinkan pangeran cantik yang ada dihadapanku ini
kalau aku baik-baik saja.
“Agassi,
onu nara saramiyeyo(anda berasal dari mn)?”
“Jonun
Indonesia saramiyeyo Jejungssi. Waeyo?” tanyaku balik.
“Aa,
pantas saja, bahasamu seperti Kim Junra”. Ha? Sapa tuh?
“Chongmal?
Gureom, kim Junra nuguya?”
“Dia
juga mahasiswa ,magang sepertimu. Nanti kalau kita bertemu lagi, akan
kukenalkan padanya” janjinya sambil tersenyum padaku.
“Kamsahamnida
Jejungssi” ucapku membalas senyumannya.
************
(@ruang
ganti suju)
Siiinnnggg...........krik
krik krik
Aku
menelan ludah saat masuk keruangan ini. Sunyi dan menegangkan. Pikiranku
langsung melayang. Kalau tidak kangin yang marah, pasti Heechul. aku memilih
diam daripada menjadi santapan makan malam mereka. tiba-tiba Heechul keluar
ruangan sambil membanting pintu. Tentu saja aku terlonjak kaget. Haishh
menakutkan sekali. Seperti di medan perang saja.
“Jungchanssi,
tolong ambilkan berkas-berkas yang ada di ruangan sebelah” kata manajer mereka.
“Ye,
daesanssi*ngawur*” aku segera berjalan menuju pintu.
JEDUK!!
Aah
!! aku mundur lunglai ke pojokan tembok, dan terdududk sambil memegang dahiku.
“Sakit...”
rintihku.
“Jungchanssi,
gwaenchanayo?”
“Jungchanssi..”
“
Cepat ambil P3K”
“Ya!!
Yeoja magang, kau tak apa?”
Aku
tak menghiraukan pertanyaan mereka, yang kupikirkan hanya satu. PUSING SEKALI!!
“Ya!!
Yeoja magang, Kenapa tidak menjawab?!!!” haishh orang ini benar-benar cerewet
sekali.
“YA HEECHULSSI!!
KENAPA BERTANYA TERUS?! AKU INI SEDANG PUSING TAU!!” bentakku meninggalkan
ruangan itu sambil memegang dahiku. Saat berada di pintu, aku berpapasan dengan
siwon.
“Kenapa
dia?” tanya siwon pada yang lain.
“Heechul
hyung membuka pintu dengan keras saat dia berada di belakang pintu” samar-samar
aku mendengar seseorang menjawab pertanyaan dari siwon tadi.
Aku
segera ke ruangan sebelah untuk mencari berkas-berkas yang diminta oleh manajer
daesan. Saat sedang mencari, ada orang yang datang. Ooh, ternyata si pangeran
cantik, Jejung.
“Lho?
Kau agassi yang tadikan? Siapa namamu?” tanyanya.
“Nanun
Park Jungchan imnida” jawabku sambil membungkukkan badan dan seketika lupa pada
sakit di dahiku.
“Mianhae
aku lupa menanyakan namamu. Tapi Jungchanssi, keningmu berdarah.” Hah?
Berdarah? Cepat-cepat aku mencari kaca. Pantas saja sakit, darahnya keluar
banyak sekali.
“Yoboseyo
Junrassi, cepat kemari dan bawakan kotak P3K” aku menoleh kearah Jejung. Wow.
Dia menyuruh orang untuk membawakan kotak P3K untukku?
Orang
yang ditelepon oleh Jejung datang cepat sekali sambil membawa P3K.
“Jungchanssi,kemarilah. Aku akan mengobati lukamu”
“tidak
usah Jejungssi. Aku harus mengantarkan berkas-berkas ini kepada manajer daesan
sekarang” tolakku halus dengan menunjukkan berkas yang ada di tanganku.
“kalau
begitu, Junra saja yang mengantarkannya” Jejung mengambil berkas yang ada di
tanganku dan menyerahkannya kepada yeoja yang bernama Junra tadi.
Saat
Junra keluar, Jejung mulai mengobati lukaku. Wajah kami dekat sekali. Jantungku
berdegup kencang.
“Kenapa
bisa mengeluarkan darah sebanyak ini?” tanya Jejung yang masih mengobati
dahiku.
“Tadi
aku berada di belakang pintu, saat Heechulssi membuka pintu itu dengan kekuatan
supernya”
“Kekuatan
super?” dia berhenti sejenak dan menatapku bingung.
“Kekuatan emosinya maksudku”
“Hahaha
kau ini lucu sekali” waa.. tampan sekali jika sedang tertawa, aku hanya tersipu
malu.
Junra
sudah kembali dari ruang ganti suju untuk menggantikanku.
“Mereka
terus bertanya tentang keadaanmu” kata Junra sambil membereskan kapas-kapas
bekas lukaku tadi.
“Chongmal?
Sebaiknya aku kembali” kataku yang juga membantu Junra membuang kapas-kapas
itu.
“Gomawo
Jejungssi, dan terima kasih Junrassi” ucapku membungkukkan badan.
“ Ne, Cheonmaneyo. Hati-hati ya”
“Sama-sama
Jungchanssi” Junra sedikit kaget saat aku mengucapkan terima kasih dalam
b.indonesia. tapi ia tetap membalas dengan senyuman.
*****************
Saat
ku kembali ke ruang ganti 13 orang itu, ternyata mereka sudah berada di stage.
Aku menghampiri Kyura sunbae, mungkin saja ada hal lain yang bisa kukerjakan.
“Sebaiknya
pulang saja. Hari ini kau sudah melakukan tugasmu dengan baik dan wajahmu pucat
sekali. Aku takut kalau kau lama-lama
disini, nisa-bisa malah pingsan.” Oh Thanks God! Akhirnya kau bisa istirahat.
“Kamsahamnida
sunbae” aku melenggang keluar gedung dan menunggu bis di halte.
*************
Setelah
kejadiam kemarin, hari ini aku membantu Kyura sunbae membuat laporan saat di
dream concert.
Satu
persatu member suju memasuki ruang rapat, mataku dan matanya Heechul bertemu,
tapi dia malah memalingkan wajah. Aigo.. sebesar apa sih gengsinya sehingga
masih belum meminta maaf atas kejadian kemarin.
“Jungchanssi,
sini sini” panggil eunhyuk. Aku berjalan kearah tempat duduknya yang berada di
samping Heechul.
“Bagaimana
dengan keningmu?” semua member kecuali heecul menatapku.
“Aa..
kemarin mengeluarkan darah banyak, tapi Jejungssi sudah mengobatiku” aku
sengaja menekankan kata ‘darah’, nampaknya Heechul tidak memperhatikanku. Dia
sedang berbicara dengan manajer daesan.
“Jejung
hyung?” kyuhyun menatapku bingung, padahal tadi sepertinya ia sedang sibuk
bermain game.
“Ne,
kebetulan kemarin bertemu dengan Jejungssi” jelasku, semuanya mengangguk
mengerti.
BRAKK
Semua
termasuk aku menoleh kearah Heechul dan manajer daesan. Lagi-lagi Heechul
menggerebak meja.
“Terserah
padamu lah” manajer daesan keluar meninggalkan Heechul yang masih emosi.
“Yo
lak sak no seh mejane(kan kasian mejanya)” gumamku dengan logat surabaya,
tempat tinggalku dulu.
“Mworago?”
Heechul menoleh dengan memicingkan matanya padaku.
“Ani..”
jawabku enteng dan mengikuti manajer daesang keluar ruangan.
**************
Aku
bertemu dengan Kim Junra lagi saat istirahat makan siang. Kami bercerita
banyak. Ternyata nama aslinya adalah Raras, Kim Junra adalah singkatan dari Kim
Junsu dan Raras. Aku tertawa mendengarnya. Dan dia adalah Cassiopeia sejati
sama sepertiku.
“Beruntung
sekali magang di tempat DBSK” kataku sambil menyantap makan siangku.
“Hehehe
aku juga tidak menduganya. Mendengar suara junsu saat berbicara biasa dan saat
dia menyanyi, benar-benar berbeda”
“Berbeda?
Apa yang beda?”
“Suaranya
junsu cempreng sekali kalau tidak menyanyi” bisik Junra, padahal kami
menggunakan bahasa kami, seharusnya dia tidak perlu berbisik-bisik. Toh tidak
ada yang mengerti.
“Hahaha
benar benar” aku setuju dengan pendapatnya.
“Bukankah
tempatmu juga menyenangkan? Kan di sana ada si tampan siwon?”
“seharusnya
begitu, tapi diantara mereka semua, ada satu yang membuatku sial terus”
“Nugu?”
“siapa
lagi kalau bukan Heechul. Haishh orang itu benar-benar menyebalkan” Junra
tertawa mendengar ceritaku.
“Hahaha..
hati-hati lho, benci bisa jadi cinta. Kekeke”
“Cih!
Tak akan! Never!” aku memanyunkan bibirku.
“Jangan
begitu, nanti karma dengan omongan sendiri lho” jiah, kenapa Junra malah
berkata seperti itu? Aku hanya diam melanjutkan makan siangku.
“Annyong.
Wah kalian sudah akrab ya?” Jejung tiba-tiba datang menyapa kami berdua diikuti
junsu dibelakangnya.
“Annyong
Junsussi, annyong Jejungssi” sapa Junra dan tersenyum kepada junsu.
“Wah,
aku yang menyapa duluan kenapa melihatnya kearah junsu?” goda Jejung pada Junra.
Aku jadi ikut tertawa. Nampaknya junsu juga malu-malu saat Jejung berkata
seperti itu.
“Ya!
Jejungssi. Kau juga! Aku bersama dengan Jungchan disini, tapi matamu tak bisa
lepas dari jungchan!” hah? Aku tak mengerti maksud perkataan Junra. Kenapa aku
juga dibawa-bawa?
“dan....”
Jejung membekap mulut Junra, saat Junra ingin melanjutkan kalimatnya.
“Hmmph..”
Junra meronta-ronta.
“Junsu-ya!
Cepat bawa keluar mahkluk yang satu ini!” kata Jejung yang masih mentutup mulut
Junra dengan tangan kirinya.
“Ara,
tapi lepaskan dia dulu donk. Kasihan tuh mukanya sudah memerah tak bisa
bernafas” junsu berusaha menolong Junra dan menggandengnya keluar ruangan.
“Ya!
Jejungssi! lihat saja nanti!” teriak Junra dari luar. Aku hanya melongo melihat
tingkah mereka bertiga.
“Jangan
pedulikan ucapannya. Dia selalu begitu” melihat kejadian tadi, aku menghela
nafas.
“Waeyo
Jungchanssi?”
“Aniyo, aku hanya iri pada Junra. Dia sangat dekat dengan
kalian”
“Iri?
Tidak bedakan dengan suju? Di sana kan ada Leeteuk hyung, yesung hyung,
Eunhyuk, dan yang lainnya”
“haha
iya sih..” aku tertawa miris. Kualihkan pandanganku pada luar jendela besar yang memisahkan ruangan ini
dengan lorong. Heechul? Dia menatapku sesaat dan pergi begitu saja. Ada apa
sih?
_TBC_
FANFICTION
– MY DOUBLE IDOLS part 2 (penderitaan chacha)
Cast : Super junior, DBSK
Setelah
makan siang, aku kembali ke ruangan suju. Mataku terpaku pada sebuah kotak
kecil di atas mejaku. Ku buka perlahan, isinya adalah 2 butir cokelat dan kartu
kecil bertulisan ‘Mianhae’. Aku meoleh kanan kiri, mencari pemilik kotak ini.
“Jungchanssi,
apa itu?” Kyura sunbae datang dan melihat kotak yang kupegang.
“Coklat?
Dari siapa?” aku menggeleng tidak tahu.
“Mollaso,
hanya ada tulisan mianhae. Jelek pula tulisan tangannya” Kyura sunbae terkekeh
mendengar jawabanku.
BRAKK
Aku
menoleh ke asal suara itu. Sepertinya ada yang membanting pintu tadi.
“Pssst,
Jungchanssi” Yesung tiba-tiba berbisik padaku.
“Ne,
Yesungssi”
“Kotak
itu dari Heechul hyung dan kartu itu juga Heechul hyung yang menulis sendiri”
OMO!!
Berarti yang membanting pintu tadi Heechul donk?. Mungkin saja ia mendengar
percakapanku dengan Kyura sunbae.
Aku
langsung berlari mengejar Heechul. Tapi terlambat, ia sudah masuk ke dalam lift.
Terpaksa aku turun melalui tangga darurat. Sesampainya di lobby dan masih
dengan nafas terengah-engah, aku mengejarnya lagi. Buset, cepat sekali
jalannya.
“Heechulssi.
Hosh Cha..kam..ban..nyon hosh..hosh” ku pegang lengannya sambil mengatur nafas.
“Mianhae,
chongmal mianhae Heechulssi. Aku benar-benar tidak tau kalau itu kotak darimu”
”Ya!!
Kau itu kuliah di universitas paling termuka di korea. Tapi sikapmu itu
benar-benar tidak tahu diri” hah? Aku termenung sesaat, apa hubungannya dengan
kyunghee? Sebenarnya namja ini bicara apa sih?
Heechul
lalu menepis tanganku dengan keras dan untuk yang kedua kalinya, aku terjatuh
di lantai. Aku meringis kesakitan di perlakukan seperti itu. Karna tak tahan
dengan sifatnya, aku langsung berdiri dan menatap tajam matanya.
“”Heechulssi,
sebenarnya yang tidak tahu itu aku atau kau? Menyuruh orang dengan seenaknya
saja, padahal tugasku di sini sebagai mahasiswa magang bukan untuk menjadi
babumu! Lalu masalah tadi, kenapa meminta maaf dengan kertas? Seperti pengecut
saja!”
“Kau...”
“dan
mana ada namja yang mendorong seorang yeoja seperti tadi? HAH?! Dasar namja
berdarah AB!!!” setelah puas dengan kekesalan yang kuungkapkan, aku pergi
meninggalkannya begitu saja. Aku tak peduli ekspresinya saat ini. Yang penting
sekarang aku merasa puas.
****************
Kejadian
kemarin membuatku takut dengan Heechul, karena daritadi dia melihatku terus.
Bukannya aku takut akan tatapan marahnya, tapi yang aku takutkan, Heechul
melihatku dengan tatapan yang berbeda. Bagaimana ya cara menjelaskannya. Yang
penting cara melihatnya berbeda sekali dari yang sebelumnya. Aku jadi risih.
“Jungchanssi,
ada kejadian apa kemarin kau dengan Heechul?” Shindong tiba-tiba muncul
dihadapanku.
“Memangnya
ada apa?” tanyaku balik pura-pura tidak tau.
“Entahlah, dia kemarin tiba-tiba bertanya padaku tentang golongan
darah AB”
“Lalu?”
aku penasaran.
Shindong
mulai menceritakan saat Heechul tiba-tiba menarik kerah bajunya dan
mendorongnya ke tembok. Heechul bertanya tentang orang yang mempunyai golongan darah AB, karena shindong
tidak tau, ia menyuruh Heechul untuk mencarinya di internet.
“Saat
membaca artikel itu, aku tidak berani berkomentar apa-apa. aku langsung kabur
sebelum kena amarahnya”
Aku
mengerutkan keningku “Apa isi artikel itu?”
“Baca sendiri saja, aku takut jika hyung marah kalau kita
membicarakan ini”
“Lalu
kenapa kau tanyakan kejadian itu padaku?” aku masih penasaran.
Shindong
mengela nafasnya “Karena aku pikir, ini pasti ada kaitannya denganmu, Jungchanssi.
Hanya kau yang berani mengutarakan sesuatu pada Heechul hyung”
Mengutarakan?
Memang aku bilang apa?
Shindong
yang melihatku bingung, segera melanjutkan bicaranya “Aku diberi info oleh
salah satu staf, kemarin kalian bertengkar di lobby”
Aku
terserentak kaget. Haduh, kemarin aku terlalu kesal jadi mungkin tidak bisa mengecilkan suaraku.
“Gwaenchanayo Jungchanssi, kita semua malah mau berterima kasih padamu. Mungkin
saja Heechul hyung mau merubah sikapnya yang seenaknya sendiri itu” Shindong
menepuk pundakku, sedikit membuatku lega dengan perkataannya. Aku hanya diam
tersenyum.
Aku
masih penasaran dengan artikel tentang orang bergolongan darah AB. Ku buka
laptopku dan langsung browsing melalui google, aku mulai mengetik dengan
tulisan indonesia, agar tidak ada orang di sekitarku membacanya.’Watak orang
Golongan darah AB’.
Mereka memiliki karakteristik di kedua ujung
spektrum. Artinya di satu sisi mereka pemalu... Mwoya(apa)? Pemalu apanya,
malu-maluin malah. ....di sisi lain
sangat terbuka. Mereka juga dikenal sangat sensitif.. Ini dia!! Sangat
sensitif, setuju sekali. Ku lanjutkan pada kalimat selanjutnya. ....dan penuh perhatian. Aku membaca ulang
kalimat itu. Perhatian? Benarkah? Aku belum pernah melihat sifat itu muncul
dalam diri Heechul. Hmm.. mungkin saja. Lalu paragraf selanjutnya, ...Golongan darah AB dianggap sebagai tipe
darah terburuk di Jepang. Karena orang yang memiliki Golongan darah AB dianggap
yang paling lemah dan tidak bisa dipercaya. Mataku terbelak saat membaca paragraf
itu. Apa-apaan ini?
Kenapa sebagai yang terburuk di Jepang? Aigo, sungguh tak
adil. Apakah Heechul juga membaca paragraf itu. Bagaimana perasaannya ya?
Kenapa
aku malah mengkhawatirkannya? Haishh sudahlah. Lebih baik aku membantu Kyura
sunbae menyiapkan baju untuk pemotretan Super Junior.
**********
(@
Lokasi pemotretan)
Brrr
dingin sekali. Kenapa lokasinya di outdoor sih, sekarang kan bulan januari.
Hawa-hawa dingin masih terasa menembus jaketku. Maklum, di Indonesia mana ada
hawa sedingin ini. Berkali-kali aku bersin dan membawa sekotak tisu besar di
tasku.
“Hacchii..
brr.. sun..bae.. ada.. yang..bi..sa aku..ban..tu?” gigiku gemetaran tak mau
berkompromi dengan hawa dingin ini.
“Aku
menyesal membawamu kesini Jungchanssi. kau belum terbiasa dengan musim dingin
ya? Lebih baik tunggu aku disana saja. Jangan mendekati mereka ya” Kyura sunbae
menunjuk ke arah 10 pria itu. Aku mengangguk mengerti, tentu saja aku tak boleh
mendekati mereka. bisa-bisa mereka tertular virus dariku.
Pemotretan
tidak begitu lama, hanya 2 jam. Tapi itu sudah membuatku berdiri membeku dengan
mata terbelak. Kakiku sangat kaku tak bisa di gerakkan.
“Jungchanssi,
kajja(Ayo)” tamatlah aku, Kyura sunbae sudah menyuruhku masuk ke mobil. Aku
butuh waktu, jari-jari kakiku sudah mulai bisa digerakkan, tapi tak sepenuhnya.
Aku menunduk melihat sepatuku dan berdo’a semoga bisa berjalan.
“Gwaenchana?”
seseorang bertanya dengan lembut padaku. Aku mendongakkan kepala. Heechul. Aku hanya
tersenyum meringis kesakitan. Nampaknya ia mengerti keadaanku. Kedua tangannya
memegang kedua lenganku dengan hati-hati.
“Kajja, jalanlah pelan-pelan. Jika aku menuntunmu terlalu
cepat, beri tau aku”
“Ne”
aku mengangguk pasrah. Aku berpikir sesaat, kenapa Heechul bisa selembut ini?
Ah, masa bodoh. Yang penting sekarang aku ingin cepat-cepat masuk ke mobil dan
menghangatkan diri.
************
Oh
God !! 39o derajat. Aku benar-benar wanita tak berdaya, menunggu 1
jam seperti tadi sudah membuatku tepar seperti ini. Huhuhu oemma.. kepalaku
berdenyut tak karuan saat mendengar gedoran sangat keras dari luar. Aku
berjalan gontai menuju pintu.
“Adjumma(bibi).
Waeyo?” aku melongok ke luar pintu.
“Sudah
2 bulan kau belum bayar Jungchanssi” choon adjumma menagih uang apartement
kecil ini. Haishh, bagaimana aku bisa lupa sih. Choon Adjumma ini orangnya
sangat tidak sabaran.
“Chongmalyo?
Mianhae adjumma, aku sangat sibuk, jadi lupa untuk membayar. Aku akan mengambil
uangnya dulu” belum 3 langkah aku masuk lagi, choon adjumma sudah mendorongku
untuk tetap diluar.
“Tidak
usah! Mulai hari ini, tolong tinggalkan ruangan ini. Aku tidak mau menerima
orang yang telat membayar sepertimu” otakku mencerna setiap kata dari adjumma
dengan sangat lambat, aku masih diam saat suaminya membereskan barang-barangku
yang tidak banyak itu. Dan saat aku mulai sadar, semua barangku sudah berada di
depanku.
“Tapi
adjumma, aku punya uang untuk membayar selama 3 bulan ini” mereka tidak
mendengar kata-kataku, pergi meninggalkan aku yang masih terpaku di depan pintu
yang sudah tidak bisa aku tempati lagi.
Malam-malam
begini aku harus bagaimana? Badanku semakin panas dan cuaca juga semakin
dingin. Terlintas dipikiranku untuk menginap sementara di tempat tinggal Junra.
Tapi sepertinya dia sedang sibuk, aku tak mau merepotkannya.
“Jungchanssi?
Wae irae(km knp)? Kok ada diluar?” aku melihat orang yang memanggilku dengan
tatapan sayu. Aku tak bisa melihat jelas orang itu.
“Kau
mau kemana? Kenapa barangmu ada di luar?” orang itu bertanya lagi. Aku berusaha
menjawab pertanyaannya walau kerongkonganku sedang kering. “Entahlah, Choon
adjumma tidak mau aku menyewa apartementnya lagi”
Ukh,
kepalaku sakit lagi. Mataku mulai berkunang-kunang. Kedua kakiku sudah tak
mampu berdiri lagi. Dan orang itu memanggil namaku berkali-kali tapi suaranya
mulai menghilang. Lalu semuanya gelap.
***********
Ada
cahaya menyinari mataku. Silau. Aku membuka mataku perlahan, dan berusaha
menyesuaikan dengan cahaya itu. Aku meletakkan punggung tanganku di dahiku agar
terhindar dari cahaya yang sekarang aku tau bahwa itu sinar matahari, ada
sesuatu yang basah menempel di dahiku. Handuk kecil? Untuk apa? eh, aku ini ada
di mana ya?
Aku
mengangkat tubuhku hingga terduduk di kasur. Ku lihat sekelilingku, ini bukan
kamar apartement ku. Aku kaget saat melihat ada seorang namja yang tertidur di
kursi tapi kepalanya bersandar di tepi kasur yang aku tiduri. Saat aku bergerak
sedikit, ternyata malah membuat namja itu terbangun.
“Jungchanssi,
kau sudah bangun?” Heechul? Kenapa dia bisa di sini?
“Aa..
Jungchanssi, kau sudah sadar? Ini minumlah” Leeteuk masuk diikuti oleh shindong
yang membawa napan berisi makanan. Kenapa mereka ada di sini? Eh, salah. Kenapa
aku bisa berada di dorm suju?
“Minumlah
dulu, lalu sarapan dan minum obat” Heechul menyodorkan ku gelas yang dipegang
oleh Leeteuk tadi. Aku mengambilnya masih dengan raut wajah bingung.
Aku
meneguk habis air putih itu. “Bisa tolong ceritakan padaku, kenapa aku bisa
berada di dorm kalian?”
“Kau
tidak ingat?” aku menggeleng.
“Tadi
malam Heechul hyung membawamu kesini dengan keadaan suhu badanmu 39o derajat”
kata shindong meletakkan napan berisi makanan di depanku.
“Makanlah
selagi panas” aku mengangguk pada Leeteuk. Sebenarnya aku malu untuk makan di
depan mereka, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus minum obat agar panasku turun.
“Lalu?”
aku menoleh kepada Heechul.
“Kau
bilang kalau pengurus apartementmu itu sudah tak mau menerimamu lagi”
“Uhuk..Uhuk..ukh..”
aku tersedak mendengar hal itu, dan mulai mengingat semuanya.
“Yaa..
pelan-pelan..” Heechul membantuku minum.
“Lalu?
Bagaimana kau bisa ada di depan apartementku Heechulssi?”
“Heechul
hyung mengkhawatirkanmu sejak di lokasi pemotretan kemarin” celoteh shindong
yang langsung kabur sebelum menjadi korban pembantaian.
Aku
memiringkan kepalaku. Benarkah dia mengkhawatirkanku? Waah, senang sekali. Eh?
Apa yang aku pikirkan, haduh otakku sudah tak beres.
“Ani,
jangan pedulikan shindong. Aku hanya kebetulan lewat. Lagipula, untuk apa aku
khawatir padamu” katanya sinis sambil berjalan keluar kamar.
Tuh
kan. Aku pikir dia sudah berubah, sifatnya masih saja seperti itu. Dasar namja
menyebalkan!!
*************
Sudah
2 hari aku berada di dorm suju lantai 12. Dan 2 hari itu aku juga ijin sakit
pada Kyura sunbae. Sekarang aku sudah merasa baikan, dan juga waktunya mencari
apartement baru. Aku akan mencarinya sepulang magang sore nanti.
Terlihat
sosok Junra berlari menghampiriku. “Jungchan-ah.. kemana saja? 2 hari ini kau
membolos ya?” wajahnya khawatir.
“Yaa! Mana berani aku membolos magang kalau bukan karena
demam”
“Chongmal?
Apa masih panas?” Junra menempelkan punggung tangannya di dahiku.
“Aniyo”
“Kau
pindah apartement ya? Kenapa tidak bilang? Aku sampai dibentak oleh adjumma
itu. Huh” Junra mendengus kesal. Karena merasa bersalah, akhirnya aku menceritakan
kejadian itu padanya.
“MWORAGO?
Kau tinggal di dorm mereka?” suara junra keras sekali. Aku langsung menyeretnya
kepojok ruangan.
“Ya!!
Kecilkan suaramu itu!”
“Kenapa
tidak menghubungiku Jungchan-ah. Kau kan bisa tinggal di tempatku” raut
wajahnya sepertinya marah mendengar ceritaku.
“Aku
tak ingin mengkhawatirkanmu. Mianhae” ucapku pasrah jika Junra memang marah.
Junra
menghela nafas panjang “Lalu kapan kau akan keluar dari dorm mereka?”
“Sore
nanti ini aku akan mencari yang baru. Tenang saja, mana mungkin aku lama-lama
bersama mereka. apa kata dunia?” Cengirku.
“Ya!
Aku marah padamu, malah kau menyengir kuda seperti itu. Arasso, aku akan mengantarmu
mencari apartement yang baru” Junra baik sekali. Aku langsung memeluknya.
“Gomawo
Junra-ah” kataku. “Ne, tapi lain kali jangan segan-segan meminta tolong padaku.
Kitakan sebangsa, setanah air. Hehehe” jawab junra menepuk pundakku sambil
mengepalkan tangannya keatas.
****************
(@evening
day)
Waktunya
mencari tempat tinggal. Yup, barang-barang di mejaku sudah siap. Aku akan ke
tempat junra sekarang.
“Jungchanssi,
mau pulang kan? Ayo pulang bersamaku” kata siwon memberikan tumpangannya.
“Aniyo
Siwonssi. Aku harus mencari tempat tinggal baru sekarang” tolakku halus.
“Mau
aku temani?” siwon menawarkan pertolongan lagi. Beginilah, karena kebaikan
mereka semua, Aku jadi merasa tak enak hati kalau lama-lama berada di sana.
“Tidak
usah. Gomawo atas tawarannya siwonssi. Temanku sudah berjanji akan menemaniku”
“Baiklah..
aku balik duluan ya.. pulangnya jangan malam-malam. Nanti Heechul hyung
khawatir lagi” Siwon meninggalkanku dengan senyuman penuh arti. Aku jadi
bingung sendiri. Sudahlah, aku harus bergegas menemui Junra.
(@TVXQ
room)
“Mianhae
Jungchan-ah. Chongmal mianhae. Aku ada rapat dengan Jaemin sunbae” berkali-kali
Junra membungkuk minta maaf padaku.
“Gweanchanayo.
Aku akan pergi sendiri” aku berusaha menenangkan Junra bahwa aku baik-baik
saja.
“Jungchanssi?
Annyong” Jejung masuk ke ruangan, diikuti 4 member yang lain.
“Ne,
Annyonghaseyo”aku membalas menyapa mereka.
“Wah
hyung, di luar tadi kau nampak bad mood. Melihat Jungchan disini, wajahmu
langsung berseri-seri seperti itu” changmin langsung menyeletuk.
Pletak
“Diam
kau. Jangan pedulikan mereka Jungchanssi. Tumben sekali ada di sini” tanya
jejung.
“Aah..
kebetulan sekali jejungssi, kau kan sudah tidak ada jadwal lagi. Temani Jungchan
mencari apartement baru ya. Aku ada urusan jadi tidak bisa bersamanya” mwo?
Junra menyuruh jejung mengantarku? Yang benar saja. Bukannya aku tak mau. Tapi
itu kan lebih merepotkan orang lain lagi.
“Andwae.
Biar aku pergi sendiri saja” tolakku dengan keras.
“Gwaenchana
Jungchanssi. Tunggu aku ya. Aku ganti baju dulu” Jejung keburu pergi saat aku
akan menolaknya.
“Memang
chagi mau kemana?” aku menoleh ke sumber suara itu. Junsu?
“Aku
ada rapat dengan Jaemin sunbae oppa. Aigo, banyak sekali keringatmu oppa” Junra
menjawab pertanyaan dari junsu tadi sambil mengelap keringat di wajah junsu
dengan tisu.
Apa-apaan
itu? Kenapa mereka mesra sekali? Jangan-jangan...
“Jungchanssi..
kajja” jejung menarikku di saat aku ingin bertanya pada junra tentang
pemandangan aneh itu. Sudahlah, nanti saja. Aku akan menginterogasi Junra
sendiri.
_TBC_
__________________________________________________________________________________
FANFICTION
– MY DOUBLE IDOLS part 3 (penderitaan chacha)
Cast
: Super junior, DBSK
Akhirnya
setelah 3 jam aku berkeliling dengan jejung, aku mendapatkan apartement yang
lebih bagus dan murah daripada yang sebelumnya. Pemiliknya juga sangat baik.
Malam ini aku harus membereskan barang-barangku yang ada di dorm suju. Jadi
besok sudah bisa pindah ketempat ini.
Kruk..kruyuk..
haduh, perutku ini bunyinya gak lihat-lihat tempat. Aku langsung menunduk malu.
“Hahaha,
ayo kita makan” ajak jejung menarik tanganku untuk masuk kesalah satu
restaurant mie.
“Gomawo
Jejungssi telah mengantarku” kataku berterima kasih. “Chongmal Gomawo”
“Ne,
aku senang bisa membantumu” katanya tersenyum manis sekali. “Bisa tidak jangan
memanggilku seperti itu lagi? Cukup dengan oppa. Aku juga akan memanggilmu
biasa” sambungnya.
“Ne?
Tapi...” aku merasa tak enak kalau hanya memanggilnya oppa.
“Bukankah
kita sudah dekat?”
“Ne,
oppa” jawabku ragu-ragu. Jejung tersenyum lagi saat aku memanggilnya oppa.
Aah,
aku lupa bertanya tentang hubungan Junra dengan Junsu.
“Oppa,
kenapa tadi aku mendengar Junsu memanggil Junra dengan sebutan Chagi?”
Jejung
menyeruput mienya. ”2 hari yang lalu Junsu mengatakan perasaannya pada Junra.
Kami semua tahu kalau mereka saling mencintai. Tapi mereka berdua itu canggung
sekali. Terpaksa kami membantunya”
Aku mengangguk
mengerti. Jahat sekali Junra, punya pacar idol tidak pernah cerita padaku. Awas
saja besok saat di kantor. Aku melanjutkan memakan mieku.
“Enak
sekali Junsu. Aku juga ingin cepat-cepat mengutarakan perasaanku” aku berhenti
mengunyah dan menatapnya.
“Kepada
siapa oppa?”
“Kepadamu”
Jejung tersenyum usil
Uhuk
Ukh.. aku kaget sampai tersedak.
“Yaa..
minumlah dulu. Kenapa sampai tersedak gitu sih?” dia menyodorkan segelas air
putih padaku.
Aku meminum air itu dan menenangkan diri. “Hahaha jangan
bercanda oppa”
Jejung
memegang tanganku dan membuatku sedikit kaget “Kenapa kau pikir aku sedang
bercanda JungChanssi?” wajahnya menatapku dengan tatapan serius.
Aku
hanya diam menundukkan kepalaku. Tentu saja aku menganggapnya bercanda,
bagaimana bisa seorang jejung menyukaiku? Bisa-bisa para cassie menyebutku
tukang pelet. Perasaanku padanya? Aku memang menyukai jejung, tapi hanya sebatas
mengagumi ketampanannya saja.
“JungChanssi,
Nan Chongmal Saranghaeyo” sekarang dia benar-benar mengucapkan kata itu dengan serius.
Aigo.. nanun jigum ottokhe?
Kukeluarkan
keberanianku untuk menatap matanya.”Mianhae oppa..” terlihat ekspresi kecewa di
wajahnya.
“Apa
alasannya?”
“Tentu
saja karena oppa adalah seorang idol dan aku hanya gadis biasa yang sama sekali
tidak ada daya tariknya” *Kyaa! Chacha.. mianhae, gak bermaksud.. kabur bawa
laptop*
Tiba-tiba
saja jejung tertawa keras, sampai membuatku melongo. Memang ada yang salah
dengan ucapanku ya? “Hahaha.. alasan macam apa itu? Memang apa salahnya kalau
kau hanya seorang gadis biasa? Aku tak terima alasan seperti itu”
“Tapi
oppa..”
“Sudahlah,
aku akan menunggu jawabanmu yang asli. Sekarang makanlah dan aku akan
mengantarmu pulang” lha? Memang jawabanku bajakan apa? jawaban original
seharusnya seperti apa? mentang-mentang
di indonesia aku selalu beli dvd bajakan, jadi dia kira perkataanku tadi
bajakan? *that’s true* haishh.. mollaso.
***********
“Benar
aku hanya mengantar sampai sini?” aku menyuruh jejung untuk mengantarku ke
stasiun. Mana mungkin dia mengantarku sampai di depan dorm suju.
“Ne
oppa. Kamsahamnida untuk hari ini. Maaf sudah merepotkan” kataku membungkukkan
badan sebagai tanda terimakasih.
“Hati-hati
di jalan. Jangan lupa akan jawabanmu” Jejung mengusap lembut rambutku sebelum
masuk ke mobilnya.
***********
(keesokan
harinya)
Hari
ini aku benar-benar pusing. Kepalaku bergantian menoleh pada 2 namja itu.
Sebelum kepalaku pecah karena pusing kanan kiri, aku harus menghentikan mereka
berdua.
“Yaa!!!
Guman!!! Please stop it now!!” teriakku yang berhasil membuat mereka terdiam
seketika.
Aku
menghela nafas. “Kalian berdua ini kenapa? Aku hanya akan pindah ke apartement.
Ara??”
Mereka
berdua masih terdiam. Aku jadi bingung dengan situasi ini. Untuk kedua kalinya
aku mengehela nafas lagi dan berfikir.
“Jejung
Oppa, biar heechulssi saja yang mengantarkanku. Bukankah oppa ada jadwal hari
ini? Lagipula, kemarin oppa kan sudah menemaniku” kataku pada Jejung yang
terlihat kecewa pada keputusanku.
Heechul
tersenyum seakan-akan dia telah menang dari permainan ini. “Tuh kan, aku bilang
juga apa. Kajja Jung Chan-ah” ia menarik lenganku pergi menuju ke arah
mobilnya.
“Yaa..
heechulssi, kenapa berkata seperti itu pada Jejung oppa?” kataku saat sudah
berada di dalam mobil heechul.
“Hmm?
Yang mana?” tanya heechul balik sambil menyetir.
“Semuanya.
Kenapa ketus sekali tadi? Aku kan jadi tidak enak pada Jejung Oppa!” aku
mencibirkan bibirku tanda bahwa aku sedang kesal. Mungkin dengan ini, heechul
bisa menyesali perbuatannya.
“Haisshh
dia menyebalkan sih.. tidak mau mengalah pada yang lebih tua. Sepertinya dia
menyukaimu” alasan apa itu? Memang umurnya berapa sih? Kayak anak kecil saja.
Ckckckc.
“Memang”
jawabku singkat tetap melihat ke depan.
CKITTT. DUG
Bagus.
Sekarang kepalaku yang membentur dashboard. Dulu pintu, sekarang ini. Kalau
nanti terjadi apa-apa lagi dengan kepalaku gara-gara si Heechul untuk yang
ketiga kalinya, mungkin aku akan mendapatkan bonus sebuah piring cantik. Clap
clap clap.
“Mianhae
Jungchan-ah.. Gwaenchanayo?” tanyanya khawatir.
“Kenapa
tiba-tiba ngerem mendadak sih? Sakit tau!” aku mengelus-ngelus dahiku, sakit
sekali. Sepertinya daerah yang sakit, sama seperti yang terbentur pintu dulu
deh. Sekilas jadi teringat saat jejung mengobatiku, saat jejung menabrakku, dan
saat jejung mengatakan cinta padaku.
“Jungchan-ah?
Wajahmu merah!! Apa sesakit itukah?” heechul menyadarkanku kembali dari
lamunanku.
“Ne,
sakit sekali di sini” aku menunjukkan bagian dahiku yang mungkin mulai memerah.
Nampak heechul mulai menstater mobilnya kembali dan menjalankannya. Beberapa
menit kemudian, dia berhenti di sebuah mini market.
“Tunggu
di sini” pintanya. Aku mengangguk mengiyakan.
Tidak
lama setelah itu, heechul keluar dari mini market itu sambil menenteng sebuah
tas kresek kecil berwarna putih. Dia mengambil sesuatu dari situ.
“Dekatkan
wajahmu” katanya. Aku yang masih bingung hanya diam saja.
Heechul
menoleh padaku.”Yaa.. ppali..” ia akhirnya memegang kedua pipiku, dan
mendekatkan wajahku ke wajahnya. Jantungku berdegup kencang.
Ternyata
ia menempelkan plester pada dahiku dan mengelusnya lembut. “Chongmal mianhae
Jungchan-ah” aku terserentak dengan sikapnya yang kadang berubah-ubah.
“Ne
Heechulssi. Lain kali hati-hati” mendengar perkataanku, dia berdecak kesal.
“Jangan
memanggilku seperti itu. Panggil oppa saja, seperti kau memanggil Jejung tadi”
kata heechul menatapku tajam. Aku menundukkan kepalaku sambil berfikir.
“Wae?
Kau tak mau?”
“Bukannya
begitu. Aku hanya tidak enak saja”
Heechul
mengerutkan keningnya “Yaa.. ayolah, aku tak mau jika kau memanggilku seperti
itu”
“Ara Ara heechul op..pa” ucapku terbata-bata. Dia tersenyum
dan mengcak-acak rambutku
TBC
Changmin mana changmin?? Jaemin mana jaemin?
ReplyDeletetunjukin ff mu dulu baru tak buatin
ReplyDeletemasi belom mood buat nglanjutin hahaha
ReplyDelete