Friday, December 10, 2010

FanFiction – Unforgettable

Cast :
Shim Changmin
Lee Taemin





****PROLOG****

“Maukah kau berjanji satu hal padaku?” aku hanya menatapnya tanpa memberikan jawaban.
“Cintailah dia seperti aku mencintainya. Karena aku sudah tak sanggup melakukan itu”

**PROLOG**END**

****************
****************

“Ya! Jaemin-ah, apakah kau langsung pulang?” tanyaku pada yeoja yang ada di depan bangkuku.
Tanpa menoleh, dia hanya mengangguk. “Temani aku ke toko buku ya..” pintaku memohon.
“Shiroe. Aku mau pulang” jawab Jaemin membereskan buku-buku di atas mejanya.
“Ayolah.. pulang nanti aku belikan kimbab deh..” aku memang harus menyogoknya agar ikut denganku. Maklum, Jaemin sangat susah kalau diajak keluar kalau tidak ada hal yang penting.
“Chongmal? Baiklah. Tapi kau harus janji mentraktirku kimbab. Ara?”
“Arayo. Yagsohage(aku janji)” dia terenyum saat kutunjukkan kelingkingku tanda janji padanya.

****************
****************

Hari ini aku menemani Taemin ke toko buku. Sebenarnya aku tidak mau, tapi dia malah menawariku makan kimbab pulang nanti. Ya apa boleh buat, kimbab kan mahal. Jadi ku temani saja.
“Jaemin-ah, aku kesana dulu ya” aku mengangguk dan Taemin mulai meninggalkanku untuk pergi ke rak buku favoritnya. Aku berkeliling mungkin saja ada sampul buku yang terbuka, jadi lumayan kan tidak perlu membelinya *hayoo. Authornya ketauan suka kayak gitu..kekeke*
Sudah satu jam aku mengitari toko ini. Capek juga ternyata. Aku duduk disalah satu bangku yang kosong.

“Jaemin-ah? Noe Jaemin aniya(bkn kh kau Jaemin)?” seseorang menepuk pundakku dari belakang dan aku menoleh

Deg.

“Changmin oppa?” suaraku parau karena kaget berhadapan dengan namja yang meninggalkanku 3 tahun yang lalu tanpa pamit, tanpa kabar, dan tanpa mengucapkan perpisahan. Aku tak percaya ia ada dihadapanku sekarang.
“Jaemin-ah? gwaenchana?” aku tersadar dari lamunanku kembali dan tanpa menjawab pertanyaannya, aku meninggalkan Changmin oppa dan menarik lengan Taemin yang baru selesai membayar bukunya.
“Ya ya! Jaemin-ah! Pelan-pelan!”
“Ya! Park Jaemin!! Wae irae(km knp)?” Taemin melepaskan tanganku dengan paksa.
“Ani.. hmm katanya janji akan membelikanku kimbab?” jawabku mengalihkan pembicaraan.
“Haishh kau ini aneh sekali. Arata(aku mengerti). Ayo kita makan kimbab” kini Taemin yang menggandeng tanganku menuju restoran kimbab.

*************
*************

“Junra onni, aku lapar..” Jaemin merengek manja kepada onni nya agar cepat menyelesaikan masakannya.
“Ne, Sabar sedikit. Bantu juga dong”
“Haishh..”mau tak mau, Jaemin harus membantu junra menyiapkan peralatan makan.
“Apakah kau sudah bertemu dengan Changmin?” pertanyaan junra hampir membuat Jaemin menjatuhkan piring yang dipegangnya.
Jaemin hanya diam melanjutkan menata piring dan gelas di meja makan.
“Ya.. kenapa tak menjawab?”
“Onni!! Bisa tidak jangan membicarakan namja itu lagi? Bukankah kita sudah sepakat dulu? Aku sudah muak. Ara??!!” dengan perasaan marah, Jaemin meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah.

****************
****************

Entah apa yang dipikirkan Jaemin sekarang, dia menyuruhku ke taman malam-malam begini. Aneh sekali.

Dug Dug Dug

Rupanya Jaemin sedang bermain basket. Tanpa babibu lagi, aku merebut bola darinya dan langsung kumasukkan kedalam ring. Di wajahnya terlihat ekspresi kaget akan kehadiranku.
“Ya! Lee Taemin! Mengagetkanku saja” ucapnya kesal. Aku tersenyum melihat wajahnya yang seperti itu.
“Habis kau aneh sekali sih. Aku baru selesai makan malam, malah menyuruhku kesini” dia menunduk dan tersenyum kaku.
“Aniyo. Ayo lawan aku” katanya mengambil bola dari tanganku.
“Gotjimal(bohong). Cepat ceritakan apa yang terjadi” dengan cepat aku menangkis bola itu, wajahnya kembali tertunduk. Akhirnya ia mau menceritakan masa lalunya dan kejadian di toko buku kemarin.

Aku tau Jaemin masih mencintai namja itu. Jujur, hatiku sakit mendengarnya karena selama ini aku diam-diam menyimpan perasaan pada Jaemin. Aku terlalu takut untuk mengutarakan perasaanku, aku takut persahabatan kami akan merenggang.
“Menangislah.. pasti Changminssi mempunyai alasan saat itu” aku berusaha meyakinkan Jaemin agar tak ada ganjalan di hatinya.
Tapi sepertinya usahaku tak membawakan hasil. “Tapi saat itu aku adalah orang yang sangat mencintainya, yang sangat mengkhawatirkannya, aku yang sangat merindukannya” hatiku miris mendengar setiap perkataan Jaemin tentang namja itu. “Dan sekarang dia tiba-tiba kembali. Kembali ke hadapanku tanpa rasa bersalah, kembali saat aku sudah mulai melupakannya, kembali....” ia tak sanggup melanjutkan bicaranya. Aku menariknya dalam pelukanku.
“Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan?”
“Molla”

****************

“Taemin-ah.. Lee Taemin!” aku menoleh kebelakang, Jaemin sedang menuruni tangga. Tiba-tiba ia terpeleset sesuatu. Ku tangkap tubuhnya dan hampir saja kami jatuh bersama.
“Waa.. hahahaha mianhae” dia melepaskan badannya dariku dan tertawa. Aku menggeleng “Dasar kau ini. Selalu ceroboh. Ada apa?”
“Hehehe.. hari ini kuliahmu sudah selesai kan? Temani aku makan ya.. kajja” tanpa menunggu jawaban dariku, Jaemin sudah menarik lenganku.

Ku ikuti langkahnya. Tapi saat di depan gerbang, dia berhenti dan berdiri kaku. Matanya menatap tajam kedepan, tangannya gemetaran dan semakin kuat mencengkram lenganku. Lalu cepat-cepat ia berjalan dan menarikku lagi meninggalkan tempat itu.
Karena penasaran, aku menoleh kearah tatapan Jaemin tadi. Ternyara ada seorang namja yang tak ku kenal. Namja itu mengejar kami dan berhasil menyusul langkah Jaemin.
“Jaemin-ah. Dengarkan aku. Tolong jangan bersikap seperti ini” namja itu memegang lengan Jaemin yang membuatku terlepas dari Jaemin.
“Apa yang harus aku dengarkan? Dan aku harus bersikap bagaimana, HAH??!!” teriak Jaemin yang mungkin airmatanya akan menetes sebentar lagi.
“Mianhae, chongmal mianhae..” namja itu memeluk Jaemin erat. Terlihat Jaemin sangat kaget atas perlakuan namja itu. “Changmin oppa lepaskan aku! Aku tak butuh penjelasan darimu!” ia berusaha melepaskan diri dari namja yang bernama Changmin itu. Karena tak tahan, aku melerai paksa Jaemin dari namja yang melukainya dan membawanya pergi.

Sesampai di tempat yang mungkin bisa membuat Jaemin menenangkan diri.
“Gwaenchana?”
“Molla” jawabnya singkat.
“Kau masih mencintainya?” dia menggeleng kepalanya kuat.”Aniyo”
“Gotjimal. Matamu masih memancarkan kerinduan saat kau memandangnya tadi”
“Aniyo Taemin-ah! Aku sudah melupakannya!” nada Jaemin sedikit berteriak dan itu semakin membuatku kesal dengan sikapnya.
“Kalau kau sudah tak mencintainya,kenapa tadi menghindar?! Kenapa tidak mau mendengar penjelasannya, HAH??!!” bentakku, membuat Jaemin kaget karena selama ini aku tak pernah berkata seperti itu.
“Bukan begitu....”
“Lalu Apa?! mendengar ceritamu itu mana mungkin sudah melupakannya?? Aku tak mungkin membiarkan wanita yang kucintai bersedih seperti in!!” kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.

*******************
*******************

“Lalu Apa?! mendengar ceritamu itu mana mungkin sudah melupakannya?? Aku tak mungkin membiarkan wanita yang kucintai bersedih seperti in!!” apa? aku tidak salah dengar kan?
“Mworagoyo?” tanyaku, tapi nampaknya Taemin juga kagetdengan ucapannya sendiri.
Dia menghela nafas pelan dan menatapku. Tatapannya berbeda saat membentakku tadi, lebih lembut.

“Dengarkan aku. Sebenarnya aku tak ada niat untuk mengungkapkan perasaanku karna aku tau kau hanya menganggapku sebagai sahabat. Dan aku tak mau merusak persahabatan kita, Jaemin-ah” aku mendengarkan penjelasannya dengan seksama seakan tak mau tertinggal 1 kata sekalipun. Taemin melanjutkan bicaranya.
“Aku mohon kau lupakan ucapanku yang tadi”
“Tapi...” aku tak yakin dengan permintaannya.
“Ya! Tak ada tapi-tapian! Kembalilah pada Changmin hyung. Kau sudah menunggunya selama itu, untuk apa di sia-siakan, hah??” Taemin benar, aku harus mendengarkan Changmin oppa. Tapi aku juga tak enak hati pada Taemin ternyata memendam perasaannya padaku. Haisshhh.. nanun ottokhe?
“Ya! Nan chongmal gwaenchana. Aku ini namja imut, masih banyak noona kaya, cantik dan sexy yang akan tertarik padaku. Walaupun mereka tidak seperti yeoja cengeng yang ada dihadapanku ini” aku langsung mencibirkan bibirku dan langsung memeluknya.
“Gomawo Taemin-ah..”

********************

Keadaan rumah sakit yang sepi semakin membuat perasaan ku takut dan gelisah. Saat berada dengan Taemin tadi, Junra onni menelpon kalau Changmin oppa tiba-tiba saja pingsan. Taemin yang mengikutiku sejak tadi selalu mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’ agar aku tenang.
“Junra Onni!!” aku berlari begitu melihat onni ku bersama pacarnya, Junsu oppa, menunggu hasil pemeriksaan dokter.
“Ada apa? kenapa oppa bisa pingsan?” tanyaku khawatir. Tapi mereka tidak menjawab tanda tidak tahu.

Tak lama kemudian, Dokter keluar dari kamar pemeriksaan.”Siapa keluarga dari Shim Changminssi?” kami semua langsung serempak berdiri meminta penjelasan dokter itu.
“Pasien menderita kanker otak dan sekarang sudah stadium akhir. Waktunya tidak banyak lagi, kalian harus mempersiapkan diri” apa? apa maksud dokter itu?
Tanpa sadar dan dipenuhi emosi, aku menarik kerah dokter itu.”Apa maksud doter? Mempersiapkan diri apa?!!” Junsu oppa dan Taemin berusaha melepaskan dokter itu dari amarahku.
“Tolonglah dokter.. aku mohon tolonglah Changmin oppa..” aku terjatuh dan memohon sambil memegang celana dokter itu.
“Agassi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami hanya bisa memberikan obat penenang. Selain itu, kita hanya bisa pasrah pada Tuhan”
Tangisanku semakin pecah hingga tak sanggup berdiri. Taemin memapahku untuk duduk di kursi.

*******************

Sudah seminggu Changmin oppa belum sadarkan diri, kondisinya semakin kritis. Sekarang aku tau kenapa ia meninggalkanku, Changmin oppa memutuskan untuk pergi ke amerika untuk terapi dan operasi. Ternyata operasinya tidak berjalan lancar dan ia tahu kalau ajalnya sudah dekat, maka Changmin oppa kembali ke korea untuk menemuiku.
Pabo chorom! Selalu menyimpan beban sendiri. Tak terasa air mataku mengalir.
“Oppa, bangunlah..chongmal mianhae oppa. Nan bogoshippo.. Saranghandago” aku menggenggam erat tangannya dan terus menangis sampai tertidur.

*******************
*******************

Kamar 545. Kubuka pelan, tercium bau alkohol dan obat bius di kamar itu. Changmin hyung terbaring lemah dan di sisi tempat tidurnya ada Jaemin yang nampaknya tertidur karena kelelahan menjaga Changmin hyung sambil memegang tangan namja yang dicintainya.
Aku berjalan pelan menghampiri mereka yang sedang terlelap dan berdiri disamping Jaemin.

“Hyung. Kau tau, seharusnya kau sangat bersyukur karena memiliki Jaemin. Saat pertama kali aku bertemu dengan Jaemin, saat itulah aku tau bahwa ia adalah yeoja istimewa bagiku. Kau tau hyung, aku sangat mencintainya. Bangunlah hyung, aku ingin kau yang membuatnya tertawa seperti dulu, dan membuatnya bahagia” aku menangis. Baru pertama kali aku menangis untuk memohon seperti ini.

“Ngggh...” Jaemin terbangun dari tidurnya. Cepat-cepat aku menghapus airmataku.
“Taemin-ah.. kapan kau datang? Kok tidak membangunkanku?” aku tersenyum kecil padanya.”Barusan saja, nampaknya kau sangat lelah? Pulanglah”
“Shiroe!! Jangan pernah kau menyuruhku pulang!!” dasar keras kepala sekali.

Tiba-tiba aku melihat tangan Changmin Hyung bergerak dan sedik demi sedikit kelopak matanya mulai membuka. Beberapakali Changmin hyung mengedipkan mata karena belum terbiasa dengan cahaya. Lalu, ia menatap kami berdua dan tersenyum.
“Jaemin-ah.. cepat panggil dokter!! Ppali!!” dengan sigap, Jaemin keluar kamar dan memanggil dokter.
“Kau Lee Taemin? Junra dan Junsu sudah bercerita banyak tentangmu...” suara lemah sekali.
“Hyung..lebih baik jang bicara dulu...”
“Gomawo sudah menjaga Jaemin selama ini. Maukah kau berjanji satu hal padaku?”

*******************
*******************

“Dokter!! Dokter!! Cepat, Changmin oppa sudah siuman” aku dan dokter itu berlari menuju kamar 545.
Saat masuk ke kamar, entah mengapa Taemin diam saja dan berdiri kaku. Kami berdua menunggu di luar saat dokter memeriksa keadaan Changmin oppa. Taemin tetap diam.
Beberapa saat, dokter sudah keluar lagi. “kondisinya sangat lemah” lalu meninggalkan kami berdua. Aku segera masuk dengan tidak sabar melihat Changmin oppa.

“Jaemin-ah..” aku menghampirinya dengan tersenyum. “Oppa..”
“Mianhae na Saranghae(maaf&aku mncintaimu) Jaemin-ah....”

Tiiiiiiiiiiitttttttttttttt..............

Matanya tertutup dengan senyuman menghiasi wajahnya. Tapi senyumku hilang seketika.
“Ahaha oppa.. kenapa tidur lagi? Kau kan baru bangun” aku mengguncangkan tubuhnya.”Oppa.. aku belum sempat menjawabnya kan oppa. Aku belum sempat memaafkanmu oppa..”
“Jaemin-ah.. hyung sudah tidak akan bangun lagi” kata-kata Taemin menyakitkan hatiku.
“Ani !! dia hanya pura-pura saja. OPPA!! CEPAT BANGUN!!” aku menangis diatas dada Changmin oppa. “Nado saranghae oppa..”

_THE END_

******************

Wow.. sad story kah?? Tapi aku bikinnya kok gak nangis ya.. T,T
Selesai juga nih ff pesenannya Azizah Andri. Aku tepatin janji kan?? Enggak juga sih.. yang ff double idols masih males ngelanjutin.. hahaha

Junra ama Junsu muncul lagi nih.. hohohoi..
Oke.. semoga suka walaupun rada bertele-tele gitu deh..
Coment ya.. Gomawo..

No comments:

Post a Comment